Tampilkan postingan dengan label taman dan cagar alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label taman dan cagar alam. Tampilkan semua postingan

Taman Kebun Bibit


Taman Kebun Bibit Surabaya - Merupakan taman yang menarik dengan aneka tumbuhan tropis dengan berbagaijenis pohon. Tidak kurang dari seribu pohon tumbuh di sana hingga dapat memberikan suasana yang sejuk, nyaman dan udara yang segar. Di samping tersedia pembibitan bunga anggrek areal joging track yang baik. Taman ini sangat ramai pengunjung jika pada hari libur, hari sabtu dan minggu.Tanpa biaya masuk atau gratis untuk masyarakat umum.

Sekarang sudah dilengkapi dengan keberadaan hewan - hewan yang lucu. Seperti Rusa, Monyet juga ada taman burung yang ukuran sangkarnya sangat besar,seperti di kebun binatang.
Di sekitar taman burung juga ada taman air yang sangat bagus. Anak - anak bisa main air sepuasnya dibawah sejuknya pepohonan yang indah. Juga Sangat Banyak Sekali arena permainan anak. Lokasi ini berdekatan dengan Pasar Burung Bratang dan Pasar Bunga Bratang serta mempunyai areal Parkir yang cukup luas. 

Taman Kebun Bibit ini memang terkesan memanjakan anak - anak dibawah umur. Khususnya warga kota Surabaya sendiri yang gak perlu jauh - jauh mencari tempat rekreasi keluarga.
Dilengkapi dengan Taman Bacaan yang menyediakan buku - buku untuk anak usia TK,sampai yang duduk bangku sekolah dasar. Jadi selain rekreasi, para orang tua bisa sambil mengajari anaknya untuk belajar. Taman bacaan ini gratis untuk semua pengunjung, hanya mengisi daftar nama penyewa buku saja, karena ini juga program dari pemerintah.

Untuk Tempat Bermain, disini banyak sekali permainan ketangkasan yang sekarang banyak digemari, istilah sekarang adalah out bound. Anak - anak bisa berinterasksi langsung dengan permainan ini. Permainan di taman ini memang khusus buat anak - anak, jadi sangat aman sekali.

Kawasan wisata ini telah dilengkapi (Technopark) koneksi jaringan nirkabel (wireless) gratis yang bisa dinikmati oleh seluruh warga Surabaya. Dengan diresmikannya Kebun Bibit Bratang sebagai Technopark ini, para pengunjung yang membawa laptop bisa mengakses jaringan wireless dengan gratis di sekitar kebun seluas 2,4 hektare itu. Tanggal 10 Agustus sendiri dipilih karena bertepatan dengan Hari Teknologi.

Program Surabaya Smart City ini adalah kerjasama antara Pemerintah Kota Surabaya dengan tim ITS (Institute Of Technology Sepuluh November).

Taman Bungkul


Hampir setiap sore kita sekarang bisa menikmati pemandangan menyenangkan di Taman Bungkul, Surabaya. Sejak dibuka untuk umum pada 21 Maret 2007 lalu, Taman Bungkul selalu ramai didatangi warga Surabaya. Sejak direnovasi, Taman Bungkul memang terlihat lebih hidup. Di taman itu, warga Surabaya bisa melakukan banyak hal, tidak sekedar jalan-jalan. Bagi yang sekedar jalan-jalan menghabiskan sore hari, jalan di Taman Bungkul sudah sangat memadai. Bagi yang gemar “Extreme Sports”, di Taman Bungkul tersedia arena permainan Skateboard dan BMX. Bagi yang sudah berkeluarga, anak-anak dijamin akan senang sekali bermain di Taman Bungkul. 

Keramaian semacam itu berbeda dengan keramaian sebelum Taman Bungkul direnovasi. Taman Bungkul terkenal sebagai tempat rapat umum partai politik (terutama pada saat pemilihan umum), tempat demonstrasi, dan tempat peziarahan. 

Tempat peziarahan? Ya. Banyak peziarah, baik dari Kota Surabaya maupun daerah lain seperti Kediri, Banyuwangi, Gresik, dan Lamongan, yang berkunjung secara berombongan (Kompas, 24/4/1999). Karena di Taman Bungkul terletak makam Mbah Bungkul yang merupakan Boleh jadi Mbah Bungkul dapat dikategorikan sebagai wali lokal, suatu konsep sejarawan UGM Sartono Kartodirdjo untuk menyebut tokoh Islamisasi tingkat lokal. Keberadaan dia sejajar dengan Syeh Abdul Muhyi (Tasikmalaya), Sunan Geseng (Magelang), Sunan Tembayat (Klaten), Ki Ageng Gribig (Klaten), Sunan Panggung (Tegal), Sunan Prapen (Gresik), dan wali lokal yang lain (Kompas Jawa Timur, 6/8/2007).

Renovasi Taman Bungkul paling tidak bisa sedikit memenuhi kebutuhan spasialitas warga Surabaya. Terlebih setelah sekian lama dihimpit pembangunan mal-mal baru. Pembangunan mal-mal itu memang menyediakan ruang, tapi sama sekali bukan ruang ekspresi atau pemenuhan kebutuhan spasialitas warga Surabaya. Di selasar-selasar dan hall mal, warga Surabaya dipaksa untuk berjalan, membeli, atau pulang dalam perasaan sumpek karena tidak mampu membeli berbagai macam barang yang dipajang di mal.